ARTICLE

Dennis Adhiswara: 4G Adalah Hal Terbaik Pemacu Tumbuhnya Kreativitas

Tak banyak orang yang berani mengambil risiko meninggalkan comfort zone untuk memulai sesuatu yang baru. Banyak pertimbangan yang bisa menyebabkan ketakutan tersebut, entah itu takut gagal, takut kehilangan pendapatan, maupun takut kehilangan teman-teman. Akan tetapi, ini tidak berlaku bagi Dennis Adhiswara.

Ia nekat meninggalkan gemerlap dunia entertainment demi membangun Layaria, sebuah perusahaan yang mengumpulkan para pembuat konten video (creator partner), pengembangan content production, inkubasi dan akselerasi creator partner serta talent, sampai distribusi promosi hasil karya creator partner. Hasil kenekatannya? Layaria tumbuh sebagai salah satu start up terkemuka di Indonesia.

Pada Jum’at 11 Maret 2016 lalu, kami beruntung bisa mewawancarai pria yang ramah nan humoris tersebut di headquarter Layaria di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Ia berbagi kisah mengenai ispirasi awal pendirian Layaria dan posisi teknologi 4G dalam iklim kreatif generasi masa kini.

Apa sih yang menginspirasi mas Dennis Adhiswara, seorang entertainer multitalenta : aktor, producer, director, juga presenter, untuk membangun start up mulai dari nol?

Saya orang yang nggak bisa diam, dalam arti saya tak bisa tenang jika merasa ada hal-hal yang harus diperbaiki, gemesan istilahnya. Jadi jika menghadapi kondisi seperti itu, saya mau tak mau harus ikut berkontribusi untuk memperbaikinya.

Lebih spesifik, apa hal yang harus diperbaiki tersebut?

Saat itu, sekitar tahun 2010/2011, saya melihat konten video di Indonesia, baik yang berasal dari (stasiun) TV maupun film sangat tidak bervariasi. Bisa dikatakan tahun itu konten video mencapai titik jenuh, berjalan statis. Dan balik lagi ke karakter saya tadi, “nggak bisa diem dan gemesan”, saya terpanggil untuk melakukan sesuatu. Karena itu, pada tahun 2011 saya mengambil keputusan radikal yaitu berhenti dari dunia pertelevisian, sebagai sutradara, produser, bahkan sebagai aktor fulltime untuk belajar lebih dalam tentang online video.

Tidak adakah ketakutan kehilangan popularitas dan sebagian besar pendapatan karena harus memulai lagi awal?

Pastinya ketakutan itu ada, terutama kalau berpikir apa yang sedang saya perjuangkan itu gagal. Tapi kembali lagi, yang membuat saya berani adalah saya mengajak teman-teman yang memiliki pikiran dan visi sama.

Mungkin kalau saya menjalankannya sendirian, saya akan merasa takut dan tak melakukan apa-apa, tapi karena bertemu teman dengan visi sama dan mau mengeluarkan effort terbaik bersama-sama, jalan deh (Layaria) ini.

Kadang untuk mengubah sesuatu, itu harus membongkar semuanya, sampai ke fondasi-fondasinya. Itu prinsip hidup saya yang menginsiprasi lahirnya Layaria.com, yaitu membuat konten-konten video yang sama sekali berbeda dengan yang sudah ada.

Menurut Mas Dennis, bagaimana prospek online video atau video marketing secara umum, dan Layaria secara khusus sekarang ini?

Di tahun 2011 kita dipandang sebelah mata, tahun 2013 kami (layaria.com) dianggap ancaman oleh media konvensional, dan tahun 2016 kami sudah mainstream. Sebenarnya, kami sudah memprediksi akan shifting ke sini. Tapi karena saya tak bisa diem, ketika kami sudah di tahap ini, saya sedang melihat apa tren yang akan terjadi, 5, 10 dan 20 tahun ke depan, apa saja possibility-nya, apa teknologi baru yang bakal ada, bagaimana perubahan behavior orang-orang, saya berusaha untuk memetakan dan meriset itu. Kenapa saya lakukan itu? Karena di era digital segala sesuatu berubah sangat cepat, kalau kita tak bisa beradaptasi, lebih-lebih tak bisa menciptakan tren berdsarkan riset, habislah kita. Hehehe

Kiat-kiat Khusus dong mas, bagi generasi muda yang tertarik berkecimpung di bidang online video atau video marketing?

Selalu dengarkan apa yang dikeluhkan oleh penonton atau orang-orang, selalu dengarkan itu. Pujian jelas terdengar enak, itu pasti, dan keluhan pasti tidak enak karena seakan kita memiliki banyak kekurangan. Tapi kalau kita telisik lebih jauh lagi, keluhan itu bisa menjadi sebuah peluang. Karena pada dasarnya, membangun sebuah bisnis itu adalah membangun sebuah jasa penyedia solusi. Jadi, cari tahu apa yang dikeluhkan orang-orang, apa yang kurang, apa yang mereka butuhkan, teliti dan kumpulkan data-datanya, dan setelah terkumpul, pelajari, petakan dan berikan solusi atas atas keluhan-keluhan ketidakpuasan itu itu. Mulai dari situ, jika ingin memulai bisnis, apapun bisnisnya …

Kita semua hidup di zaman dimana segala sesuatu tak bisa dilepaskan dari apa yang namanya internet. Online video ataupun video marketing pun tak akan bisa diakses secara tanpa menggunakan internet. Nah, sekarang internet kan sudah berteknologi 4G, menurut mas Dennis sendiri, bagaimana posisi teknologi 4G ini terkait tumbuhnya iklim kreatif generasi muda saat ini?

Menarik sekali kalau berbicara mengenai hal ini karena 4G adalah sesuatu hal yang sudah saya tunggu-tunggu kehadirannya sejak lama. Sebabnya, 4G bisa membuat koneksi intenet lebih cepat, praktis dan nyaman. Jelas ini merupakan keuntungan buat kami, para pelaku industri kreatif di bidang content video. Bisa dibayangkan jika koneksi internet lambat, upload bisa terhambat, bisa-bisa upload malem, pagi-pagi baru naik. Haha

Yang paling penting sebenarnya, karena jangkauan 4G luas dan cepat, memungkinkan bakat-bakat yang awalnya tak terlihat, karena bukan berada di kota-kota mainstream, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, menjadi dikenal dan terekspos secara lebih luas. Menurut saya 4G adalah hal terbaik yang bisa memacu tumbuhnya kreativitas generasi masa kini. Ini disebabkan, koneksi internet supercepat memungkinkan siapapun mendapat informasi dan terkoneksi dengan orang-orang kreatif dari seluruh dunia. Sehingga kita jadi kaya akan referensi, link, dan inspirasi untuk membuat karya yang lebih berkualitas.

Menjelang berakhirnya wawancara, pria kelahiran Malang 33 tahun silam ini berbicara mengenai proyek terbarunya yaitu merencanakan blueprint 5 tahun ke depan perfilman Indonesia atas undangan Kemendikbud bersama para sineas, pelaku industri kreatif, dan stakeholder di bidangnya masing-masing. Sukses terus Dennis